CERPEN BAHASA INDONESIA

 New Life in Another World

Oleh: M. Javier Aufa Mulia (IX-J) 

Dunia tidaklah seindah dari yang kalian bayangkan. Kejahatan dan keadilan bisa berubah kapan pun dan di mana pun.

Karena aku tidak punya motivasi dan kegiatan lagi, aku pun merasa bosan dengan kegiatanku sehari-hari.

Aku pun memutuskan untuk menjadi nolep. (Nolep : semacam kegiatan seseorang menghabiskan waktu dengan berdiam diri di kamar sendirian untuk waktu yang lama dan jarang keluar rumah / menjadi antisosial).

Di saat aku memutuskan untuk menjadi nolep, aku bermain game bertemakan militer dengan cerita utama adalah peperangan antar kerajaan maupun benua yang sangat popular karena game tersebut diisi oleh voice actor terkenal.

Dengan tatapan mata yang kosong dan seperti ikan yang mati akupun menatap layar sambil bermain game tersebut.

Ketika memulai game tersebut, kalian akan diperintahkan untuk membuat karakter terlebih dahulu. Aku sendiri memutuskan memakai karakter dengan wajah dan otot yang menawan namun dengan watak yang licik dan cerdas. Dan aku menamai karakterku dengan nama Mikaze Yuuto.

“Hmm, karakter ini boleh juga. Aku akan memilih yang ini.” 

Akupun memainkan game tersebut dan merasa sangat senang dengan game ini dan tentunya dengan karakter yang aku pilih karena karakter tersebut membuatku bisa merayu banyak orang untuk kasihan kepadaku.

“Haaaaa, emang terbaik lah karakter ini. Dengan begini aku bisa segera naik level dan mendaptkan uang tanpa harus repot-repot berkerja maupun bertarung di arena.” 

Aku menghabiskan setiap hari untuk memainkan game tersebut. Sekarang hari Minggu dan sudah satu hari satu malam tanpa istirahat sejak aku memainkan game ini.

Pada saat aku mencoba beristirahat, akupun tidak sengaja menyenggol air yang ada di dekat laptopku yang pada akhirnya membuat laptopku tersebut konslet dan menyebabkan aku terstrum karena memakai headphone yang masih menancap di laptop aku.

Saat aku terbangun, akupun tersadar bahwa aku masuk ke dalam game yang aku mainkan tersebut.

“Di mana ini, dan apa yang kelakukan di sini? Kenapa tempat ini mirip seperti tempat pertama kali aku memainkan game militer tersebut. Sebaiknya kuperiksa saja tempat ini.”

Akupun menyisir beberapa tempat dan setelah beberapa waktu, akupun yakin bahwasanya aku memang berada di dalam game yang aku memainkan.

Namun terdapat beberapa hal yang sangat berbeda, yaitu tak bisa mendapatkan uang bila tidak bekerja. Hal ini tentunya sangat berbeda dibandingkankan game karena di game kau tetap bisa mendapat uang tanpa harus bekerja.

“Kenapa… kenapa dunia ini sebagian tidak sama dengan game yang aku mainkan?”

“Apa yang harus aku lakukan…?”

Di saat aku sedang merasa ketakutan, akupun dihampiri oleh seorang kakek-kakek yang mengulurkan tangannya sambil menanyaikku beberapa pertanyaan.

“Hai nak, siapa namamu dan ada apa dengamu? Dan kenapa kamu hanya berdiam diri di sini sambil menangis. Tidakkah kamu memiliki beberapa pekerjaan?”

“Dan juga sepertinya kau bukan orang asli sini, darimana kau berasal?” Akupun menjawab pertanyaan kakek tua tersebut dengan sedikit ketakutan.

“Namaku Mikaze Yuuto dan aku berasal dari tempat yang jauh.” (Aku memutuskan tidak memberi tahu kenyataan bahwasanya aku bukan berasal dari dunia ini karena sepertinya bila mengucapkan hal tersebut, nyawaku bisa melayang)

“Begitu rupanya…” Kakek tua tersebut menyaut ucapanku.

“Apakah kau mau ikut denganku? Akan kuajari kau cara berpedang dan cara bertahan hidup di sini, sehingga nanti kau bisa menggunakan kemampuan berpedangmu untuk bergabung dengan pasukan kerajaan dalam menghadapi peperangan.”

Aku yang sudah tak tau lagi harus berbuat apa, langsung menjawab ajakan kakek tersebut, “Iya, aku mau.”

Sudah lima tahun sejak aku mengikuti kakek tersebut dan sekarang umurku adalah 22 tahun dan tanpa sadar aku menganggap kakek asing tersebut menjadi kakekku sendiri dan aku merasa sangat senang karena akhirnya memiliki orang yang bisa kupercaya dan kusayangi di kerasnya dunia ini.

“Sekarang kamu sudah menguasai teknik berpedangku dengan cepat dan mungkin ini saatnya aku melepasmu agar kau bisa bergabung dengan pasukan.” 

“Terima kasih banyak, aku tidak akan melupakanmu dan aku akan mecoba berkunjung bila aku luang.”

Akupun memeluk kakek tua tersebut dan merasa sedikit terharu yang membuatku ingin menangis.

“Sampai jumpa kek, aku akan merindukanmu.” Akupun melambaikan tangan dan bergegas pergi menuju ke ibu kota kerajaan untuk mengikuti seleksi sebagai prajurit kerajaan.

Sesampainya di sana akupun langsung bergegas menuju tempat pendaftaran seleksi tanpa beristirahat karena aku sendiri cukup kebingungan.

Hari tes pun tiba dan singkat cerita akupun menjadi nomor satu dalam segala hal tes. Hal ini karena bantuan pembelajaran yang kakek berikan dan kekuatan orang dunia lain yang aku dapatkan karena kerja kerasku selama lima tahun.

“Huuuhhhhhhh, melelahkan sekali dan tak kusangka kekuatan dunia lain dan ajaran kakek bisa sangat berguna.” Saat aku ingin beristirahat menuju asrama, aku dihampiri oleh seorang wanita dengan wajah yang sangat cantik.

“Hei kau, Yuuto.” Aku langsung menghampiri Wanita tersebut tanpa sadar.

“Yaa ada apa? Dan siapa kamu?”

“Maaf tidak memperkenalkan identisku terlebih dahulu. Namaku Mia de Renai, bisa kamu panggil Mia. Sebelumnya juga maaf jika aku seperti memanggilmu dengan kasar dan memaksa.”

“Oh tidak apa-apa, salam kenal. Jadi ada apa kamu memanggilku?”

“Aku hanya ingin berkenalan denganmu, karena aku berharap bisa satu tim dengamu.” Sesaat aku langsung teringat bahwa pengumuman pembagian tim diumumkan setelah seleksi. Aku langsung kembali ke tempat test dan melihat hasil pembentukan tim.

Aku terkejut mengetahui bahwa aku sendiri peringkat satu dan wanita yang Bernama Mia rupanya adalah peringkat dua. (Note: MC sebelumnya gak tau kalau pengumuman peringkat seleksi sudah diumumkan)

“Wah… Kita beneran satu tim.” 

“Iya.”

“Mohon kerja samanya untuk kedepannya.”

Beberapa bulan setelahnya. “Mari bersiap, pasukan Kerajaan Maiden datang.”

Yap, beberapa bulan setelah perkenalan ku dengan Mia. Aku menjalankan hari-hari dengan begitu cemerlang seperti mampu menyelesaikan misi yang tampak mustahil bersama Mia dan rekan-rekan satu timku.

Berkat hal tersebut, aku diberi hadiah promosi jabatan menjadi kepala pasukan sedangkan Mia menjadi asistenku.

Kembali ke waktu sekarang, aku harus menjadi pemimpin seluruh pasukan akibat kematian jenderal sebelumnya di medan perang.

“Bagaimana keadaan wilayah barat?”

“Keadaan wilayah barat cukup baik karena mampu memenangkan pertempuran dan bahkan semua sector peperangan dapat kita menangkan. Dengan begini kita bisa segera memenangkan peperangan yang berlangsung lama ini.”

“Terima kasih atas laporanmu, silahkan Kembali ke tempat.”

“Haaaaaahhhhhhhhhh, capeknya.”

“Kerja bagus Yuuto.”

“Terima kasih Mia, berkat bantuanmu kita akan bisa segera mengakhiri peperangan ini.”

“Bukan berkat bantuanku saja, namun ini semua berkat pemikiranmu yang cemerlang dan kegigihan serta kuatnya mental pasukan kita. Meski kehilangan Jenderal, mereka tetap tidak kehilangan semangatnya dan bahkan makin menggebu-gebu untuk memenangkan pertempuran agar bisa segera membalaskan kematian Jenderal dan tidak lupa juga karena motivasimu setiap hari.”

“Yahhhhh, aku bersyukur perang akan segera bisa berakhir, dan setelah perang ini aku mungkin akan melamar gadis pujaan hatiku.”

“Ehhhhhhhh, kau ternyata punya gadis yang ingin kau nikahi ya, tidak kusangka orang yang setiap hari memasang wajah serius dan tidak pernah beristirahat demi bisa memenangkan peperangan.”

“Ngomong-ngomong… siapa nama gadis itu?”

“Kau tak perlu tahu, nanti setelah perang ini berakhir kau lihat saja.”

“Cih pelit. Hmmmph.”

Beberapa saat setelah itu, perang berakhir dengan kemenangan yang diperoleh oleh pihak Yuuto. Berita mengenai kemenangan pasukan yang dipimpin Jenderal muda pengganti langsung menyebar ke ibu kota. Raja pun merasa senang dan merasa lega karena peperangan tersebut bisa dibalikkan keadannya meskipun telah lehilangan Jenderal.

 Keesokan harinya setelah beristirahat, Yuuto dan pasukannya kembali ke ibu kota dan mendapat sorakan serta sambutan yang meriah dari para warga.

“Meskipun kita memenangkan perang, namun kita harus membayar mahal dengan meninggalnya Jenderal kita.”

Mia yang melihat Yuuto seakan-akan menyalahkan dirinya sendiri, langsung menghadap Yuuto dan berkata.

“Berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri, dibandingkan dengan kerugian yang kita dapat. Kita memperoleh begitu banyak keuntungan jadi senanglah dan rayakan kegembiraan serta kemeriahan ini.”

Yuuto yang disadarkan oleh Mia hanya bisa tersenyum dan saat ia melihat Mia hanyut dalam kegembiraan, ia semakin yakin dengan lamaran yang akan ia lakukan.

Setelah diberikan penghargaan oleh raja, Yuuto pun langsung meminta izin kepada raja agar ia bisa berdiri dan melakukan rencana yang sebelumnya sudah ia buat dan sudah ia biacarakan dengan raja. Raja memberikan izin dan Yuuto pun berdiri.

Yuuto kemudian menghadap ke Mia dan hal tersebut membuat Mia kebingungan.

“Apa yang kau lakukan Yuuto? Kita sedang menghadap Raja.”

“Tidak apa, aku sudah mendapatkan izin dari raja, daripada itu, apakah kau ingin tahu siapakah wanita yang ingin kunikahi setelah perang?”

“Ya, aku ingin tahu Yuuyo.”

“Maka jawabanku mengenai pertanyaanmu berada tepat di depanku.”

“Ha?????? Apa maksudmu, jangan bilang…”

“Ya, pemikiranmu benar, wanita yang ingin kunikahi adalah kau Mia.”

Mia yang makin kebingungan karena pernyataan Yuuto hanya bisa terdiam. Dan Yuuto mengulurkan tangannya untuk membantu Mia berdiri. Mia pun meraih tangan Yuuto dan berdiri secara perlahan.

“Sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu sejak kau menghampiriku Ketika aku hendak beristirahat di asrama. Semenjak itu aku selalu memikirkanmu dan membayangkanmu setiap saat. Jadi, maukah kamu menjadi istriku?”

Mia yang akhirnya paham langsung menjawab,

“Iya, aku mau Yuuto.”

Sontak ruangan pun dipenuhi oleh kebahagiaan dan sang raja pun ikut senang dengan hal tersebut yang kemudian memberikan perintah agar memberitahukan berita tersebut.

Beberapa tahun telah berlalu, Yuuto dan Mia yang sudah menikah dikarunia sepasang anak kembar dengan kelamin laki-laki. Yuuto dan Mia memutuskan untuk pensiun dari menjadi prajurit, dan mereka pun hidup Bahagia bersama anak mereka di ujung ibu kota.

“Sangat menyenangkan ya Mia, kita bisa menikmati hidup bersama beserta dengan anak-anak kita.”

“Iya Yuuto.”

Waktu pun berlalu, Mia dan Yuuto sudah semakin tua dan anak mereka sekarang berjumlah empat, dan anak mereka yang pertama serta kedua sudah berusia masing-masing berusia 24 tahun dan bekerja di pasukan kerajaan, meneruskan orang tua mereka.

Hingga pada akhirnya Yuuto pun meninggal akibat usia dan beberapa bulan kemudian disusul oleh Mia yang juga meninggal karena umur.

Karena jasa mereka, kerajaaan mendirikan patung untuk jasa mereka baik untuk peperangan menghadapi Kerajaan Maiden, maupun untuk peperangan-peperangan lainnya serta misi-misi mustahil lainnya. Dan juga kerajaan membuat nama mereka menjadi nama sebuah jalan di ibukota kerajaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Manga